Lalu, segera kutelepon ibuku dan aku bilang pada ibu kalau aku merasa akan mati dalam waktu dekat. Namun ibuku segera berpikiran positif dan menyuruhku untuk tenang sambil terus membaca ayat-ayat Alquran sebisaku. Aku pun mencobanya, dan syukurlah hawa dingin itu pelan-pelan menghilang dan jantungku kembali berdegup normal. Namun pikiranku masih antara sadar dan tak sadar antara hidup di dunia fana atau dunia manusia ini dan pikiran tentang alam akhirat.
Semenjak kejadian malam itu pikiranku semakin kacau. Aku selalu dihantui perasaan takut akan datangnya kematian kepadaku. Aku amat takut kepada Alloh, takut akan Hari Kiamat, takut pada neraka dan takut ditinggalkan oleh semua orang. Bahkan yang kupikirkan bukan hidup di dunia manusia lagi, tapi aku selalu berpikir tentang manusia yang lahir, tumbuh, dewasa, tua lalu mati dan seterusnya. Jika manusia sudah mati maka ada alam akhirat, setelah akhirat maka manusia akan kekal, begitu seterusnya. Tentu saja hal ini sangat mengganggu hari-hariku. Aku menjadi tidak bisa berkonsentrasi pada kuliahku. Karena jika aku melihat dosen yang berumur lanjut, pikiranku langsung tertuju pada bayangan ketika nanti semua orang yang muda akan menjadi tua dan akan mati. Mati, mati dan mati. Seolah kata itu bersahabat denganku. Hingga membuatku stress berat. Bahkan tak jarang aku terisak tangis sendirian, karena hampir tiap hari aku meratapi kematian. Kematian orang-orang, atau kematianku nanti.
Seminggu kemudian karena aku sudah tak tahan dengan suasana di Jember, aku pun memutuskan pulang ke Banyuwangi, yang tak lain adalah kota kelahiranku. Aku ingin menenangkan diri. Hal yang sama pun terjadi, sepanjang perjalanan di bus pikiranku kacau balau sampai membuat air mataku mengalir lagi. Aku tak tahan hidup seperti ini dan mengapa Alloh memberikan cobaan yang amat berat. Seperti hidup tak segan mati pun enggan.
Setelah turun dari bus aku segera menuju rumah nenekku. Ya, aku tak pulang dulu ke rumah. Rumahku masih berjarak satu jam perjalanan lagi dari rumah nenekku. Aku lebih suka mencari solusi masalah ke rumah nenek dan pamanku daripada ke kedua orang tuaku. Karena mereka dapat memberikan solusi terbaik daripada solusi yang diberikan kedua orang tuaku jika aku mempunyai masalah. Akhirnya aku menceritakan semuanya pada mereka. Lalu mereka menyarankanku untuk menyebut nama Alloh dan berdzikir di dalam hati berkali-kali dengan sungguh-sungguh. Walhamdulillah, pikiranku yang menggangguku tadi langsung hilang. Pikiranku tak lagi bisa menjangkau kehidupan akhirat dan kematian-kematian lagi. Aku baru sadar, selama ini aku berdoa hanya dalam lisan saja, tapi tidak kukatakan dalam hati dengan sungguh-sungguh sehingga pikiran tadi tak kunjung hilang. Syukurlah, mereka berdua bagaikan guru spiritualku yang baik.
Akhirnya sekarang aku semakin sadar akan kuasa Alloh. Sehingga keimananku semakin bertambah. Aku sangat takut akan berbuat dosa. Takutku bukan pada jin, syetan, alam ghaib, kematian atau manusia. Tapi aku hanya takut pada azab Alloh dan hidup setelah mati. Alhamdulillah sekarang aku rajin beribadah, bahkan ibadah sunnah sudah bisa kukerjakan.
Terkadang manusia terlena akan nikmatnya kehidupan duniawi, bahwasanya kehidupan akhiratlah adalah kehidupan yang sebenarnya yang lebih kekal abadi untuk selamanya. Dalam ayat Alloh pun dijelaskan bahwasanya manusia belumlah dikatakan imannya sempurna jika dia belum mengalami ujian yang berat dari-Nya sebagai cobaan seberapa besar imannya kepada Alloh. Dan salah satu cirri orang beriman adalah orang yang banyak mengingat kematian. Semoga pengalaman nyata ini bisa menjadi pandangan bahwa apapun bisa terjadi atas kehendak-Nya. Karenanya kita harus menjadi hamba yang bersiap dengan datangnya kematian.
(Monafisa Rizqi)
Diambil dari Elfata ed.10 vol.13 rubrik Kisah Kamu hal. 30-32
Publish Ulang : Alqoshosh.com
[RG]








0 komentar:
Posting Komentar
Gunakan kata-kata yang baik dan sopan dalam berkomentar... terimakasih