Pagi datang menjelang. Matahari terbit dari ufuk timur. Berjuta cahaya polikromatis itu merambat. Menembus medium udara dengan kecepatan tinggi. Menelisik di antara kisi-kisi jendela. Membentuk difraksi-difraksi cahaya. Sepersekian detik kemudian, ia sudah menerangi dunia. Hiruk pikuk aktivitas manusia sudah tampak di sana sini, pun di lingkungan sekitar sebuah PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Kota Kembang. Orang-orang mulai berdatangan. Supir angkot sibuk mengemudi dan mencari penumpang. Para pedagang mulai menata barang jualan. Beberapa mobil melintas jalan dengan kecepatan sedang. Ada juga yang.. Hei! Tunggu sebentar! Lihatlah! Di antara sekian kesibukan itu, seorang wanita menatap sebuah kampus yang ada di hadapannya dengan takjub. Matanya hampir tak berkedip. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya haru namun air mata itu tidak kunjung menyapa pipinya. Inikah kampus yang ia idam-idamkan sejak dulu itu? Ia tersenyum. Kemarin, baru saja ia dinyatakan lulus masuk PTN itu.
Tahukah engkau siapa wanita itu? Wanita itu adalah aku.
Oh iya, namaku Humaira, setidaknya, itulah nama yang terpampang di akta kelahiranku, nama yang kupakai untuk ijazah, sekolah, dan hal-hal resmi lainnya. Sebenarnya namaku Humayra Azzahra. Entah mengapa namaku tiba-tiba bisa bermutasi menjadi Humaira. Tetapi sudahlah! Sebenarnya itu tidak penting. Aku adalah seorang siswa yang berkeinginan untuk dapat melanjutkan sekolah ke salah satu PTN (Perguruan Tinggi Negeri) favorit di kota tempat aku tinggal, lebih tepatnya ingin kuliah di Jurusan Industri di PTN itu. Begitupun kedua orang tuaku. Sebenarnya kedua orang tuaku tak pernah memaksaku agar dapat masuk PTN favorit. Tapi yang aku tau, PTN itu memiliki jurusan yang aku inginkan dengan kualitas terbaik. Apalagi lokasinya tidak jauh dari rumahku. Mengapa tidak?
Ternyata… perjuangannya memang tidak mudaaaaaaaaah, kawan. Awalnya, aku tidak terlalu berambisi untuk belajar. Lebih tepatnya disebut terlalu tenang. Aku memang memiliki harapan untuk masuk lewat SNMPTN. SNMPTN itu semacam seleksi untuk masuk PTN tanpa tes. Tahun lalu, kakak kelasku yang masuk PTN itu lewat SNMPTN memang cukup banyak. Menurutku, tahun ini akan sama atau mungkin bertambah banyak. Apalagi menurut teman-temanku, peluangku untuk masuk memang cukup besar. Karena aku berada di posisi 3 besar sekolah, posisi yang cukup aman untuk dapat lulus SNMPTN. Meskipun begitu, kita tidak boleh terlalu berharap bukan? Aku harus mempersiapkan diri untuk ikut seleksi masuk PTN dengan tes, yaitu SBMPTN. Yah.. Setidaknya aku masih sempat membuat perencanaan sukses SBMPTN2 2013. Masih sempat pula mengerjakan soal-soal di buku latihan intensif SBMPTN, meskipun niat awalnya adalah agar nilai try out SBMPTNku tidak memalukan. Jadi, seandainya hasil SNMPTN tidak seperti yang kuharapkan, aku sudah memiliki bekal untuk meneruskan perjuangan di SBMPTN.
Memang, rasanya tak seru juga ya kalau aku lulus SNMPTN, setidaknya tak seseru jika aku tidak lulus. Dan…. itulah yang terjadi.
Masih tergambar jelas dalam benakku, saat itu tanggal 28 Mei 2013, tanggal pengumuman SNMPTN. Pengumuman SNMPTN dilakukan secara online melalui website. Guru sekolahku mengajak siswa membuka pengumuman SNMPTN bersama. Sepertinya supaya lebih bermakna, agar yang lulus menguatkan yang tidak lulus.
Pukul 16.00, ketegangan mulai memuncak. Setiap orang memegang gadget masing-masing. Mulai membuka situs SNMPTN.ac.id. Kukira, beberapa detik lagi akan terdengar jeritan kegembiraan dan hembusan napas kekecewaan.
Ternyata prediksiku salah. Yang terdengar adalah,
“Eh, KAP3 aku berapa sih? Emang liatnya di mana?”
Terdengar juga suara guruku,
“Kan waktu itu udah dikasih.”
Aku tertawa. Rasanya lucu sekali. Sudah siap-siap berteriak melihat hasil. Ternyata lupa KAP itu apa. Jadi tidak bisa lihat hasilnya deh.
Akhirnya guruku bersedia memberi tahu nomor KAP siswa. Kami mulai berkerumun memenuhi ruang guru. Sampai akhirnya giliranku. Aku menatap wajah guruku dengan agak tegang. Tunggu, ada yang aneh di sana. Guruku. Ia menatapku dengan sedikit sedih.
“Eh, Humaira ya, tadi udah ibu cek. Jawabannya ga, Mai. Ibu juga ga percaya. Hasilnya agak aneh. Yang sabar ya.”
Aku terdiam. Bingung. Tak percaya. Sedih. Entahlah apa itu rasanya. Tidak. Aku tidak percaya. Aku ingin melihat website itu dengan mata kepala sendiri. Kuputuskan untuk mengecek langsung ke websitenya.
Ternyata memang tidak. Ya, memang aku tak lulus.
Teman-temanku mulai bertanya satu sama lain. Kuputuskan untuk pulang. Di parkiran, temanku yang juga tidak diterima berkata,
“Kayanya data punya kita belum keinput deh. Kan pengumumannya harusnya besok. Coba cek nanti. Mungkin berubah.”
Aku mengangguk lalu mulai meninggalkan sekolah.
Angin berhembus menerbangkan daun-daun dari pepohonan. Lamat-lamat terdengar suara siswa yang berteriak kegirangan karena lulus SNMPTN.
Sebenarnya aku tidak sedih, hanya sedikit bingung bagaimana cara menjelaskan hasil ini kepada kedua orang tuaku. Selama ini aku begitu dipercaya akan lulus. Ah.. Tapi, ini semua kehendak Alloh bukan? Mungkin Alloh menginginkanku berjuang lebih keras. Ya! Berjuang lebih keras!
Aah.. Setidaknya, sekarang semangat belajarku mulai tumbuh. Apalagi soal-soal yang akan kupelajari begitu lucu dan menggemaskan. Aku tidak bercanda. Kalau sudah melihat soal seleksi tahun lalu, rasanya jadi malas tidur.
Alhamdulillah orang tuaku bisa menerima. Mereka percaya, aku dapat masuk lewat jalur SBMPTN. Dan.. alhamdulillah, sekolah mengumumkan akan diadakan camp. Awalnya aku agak ragu untuk mengikutinya. Sebenarnya, aku lebih cocok belajar sendiri. Tetapi seseorang mengatakan bahwa aku jauh lebih termotivasi dan memotivasi teman-temanku. Memang aku hanya bisa belajar saat aku sendiri. Tetapi posisiku di TO (try out) SBMPTN sudah cukup aman. Setidaknya di setiap TO, aku selalu ada di lembar pertama. Hehehe. Mungkin di camp aku dapat berdiskusi dengan teman-temanku yang masih kurang paham. Aku pun akan lebih terpacu untuk belajar di sana. Aku dapat lebih disiplin. Aku dapat lebih dekat dengan teman-teman. Aku juga dapat lebih banyak bertanya kepada guru dan alumni. Menghilangkan dahaga akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lagipula, di rumah juga banyak hambatan. Dan… berbeda rasanya saat kita berjuang sendiri dan berjuang bersama-sama.
Ternyata dugaanku benar. Beberapa orang di camp memang selalu mengajakku berdiskusi. Alhamdulillah. Setidaknya ilmu yang kumiliki –meskipun sangat sedikit- dapat sedikit bermanfaat bagi teman-temanku. Terkadang terbersit dalam pikiranku, “Kamu kan belum siap buat SBMPTN, siapin buat diri kamu juga dong, jangan ngajarin temen terus.” Tetapi pikiranku yang lain berhasil menyanggah, Emangnya kamu seneng temen-temen kamu pada belum paham? Emangnya ilmu itu kalau diajarkan kepada orang lain jadi berkurang? ga akan, Mai. Malah bertambah. Tenang aja, ga ada hal yang sia-sia. Ga ada kebaikan yang ga dibalas. Alloh itu Maha Teliti lho.”
15 Juni 2013, camp berakhir. Berjuta kenangan terlukis menghias langit hatiku. Diam-diam aku merasa beryukur juga tidak lulus SNMPTN. Seandainya aku lulus, aku tidak akan pernah bisa lebih dekat dengan teman-temanku. Seandainya aku lulus SNMPTN, mungkin aku tidak akan semangat belajar nanti, karena seandainya aku lulus SNMPTN, aku tidak merasakan beratnya perjuangan untuk dpat kuliah di PTN yang kuinginkan. Seandainya aku lulus, aku mungkin akan jarang berdoa karena merasa segala begitu mudah.
Siap! Kami siap untuk berjuang di SBMPTN! Bismillah…
18 Juni 2013, soal SBMPTN mulai dibagikan. Ketegangan mulai memasuki pembuluh darah. Ikut mengalir bersama eritrosit ke seluruh tubuh. Saraf simpatik dengan nakalnya bekerja. Membuat jantungku berdetak lebih kencang. Aku berdoa. Memohon agar segalanya dimudahkan. Agar otakku dapat bekerja dengan lancar. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan-lahan. Heeei! Tenanglah! Bukankah kita telah berjuang? Lalu apa yang membuat kita risau? Bukankah Alloh melihat kita? Dan tidaklah Ia membiarkan makhlukNya yang ringkih ini berada dalam zona yang tak mampu dihadapinya.
Bel berbunyi dengan nyaring. Aku mulai mengerjakan soal TPA. Rasanya sedikit shock juga melihat soalnya. Tipenya agak berbeda dengan yang biasa kukerjakan. Dan hal lain yang membuatku cukup shock adalah… tipe kertasnya berbeda dengan tipe kertas TO. Soalnya jadi terlihat aneh. Sebenarnya, agak konyol sih, tapi.. Aku serius!
Hari pertama aku tidak terlalu yakin bisa lulus. Sebenarnya sih, ga yakin bangeeeeeeeeeeeeeeeet. Soal Bahasa Inggrisnya begitu imut dan lucu. Rasanya ingin sekali aku menjadi balon udara dan melayang sampai ke luar angkasa. Sayangnya di tempatku tes, langit-langit ruangannya ditembok. Mungkin kalau aku terbang aku akan tersangkut di sana. Akhirnya soal-soal itu kukerjakan sebisa mungkin.
Hari kedua, aku merasa cukup pede untuk menghadapi SBMPTN. Selama ini, yang berkontribusi besar dalam nilai TOku adalah TKD Saintek, terutama kimia dan matematika.
Sayangnya, tipe soal kimia jauh jauh jauh jauh berbeda dari latihan yang biasa kukerjakan (soal tahun-tahun lalu). Ada wacananya segala. Rasanya seperti sedang mengerjakan soal olimpiade. Beberapa kukerjakan ngasal. Matematika yang biasanya mudah, tiba-tiba menjadi begitu sangar dan tidak ramah. Akhirnya aku beralih ke soal biologi dan fisika. Alhamdulillah, biologi dan fisika yang aku takutkan selama ini ternyata menjadi soal paling mudah meskipun beberapa materi kukarang sendiri saat tes.
Setidaknya, tes hari kedua lebih baik dari hari pertama. Sekarang, tinggal tawakkal.
Sampai rumah, tiba-tiba sebuah virus merah jambu datang menyerang. Kecintaanku kepada PTN itu muncul saat itu juga. Aku ingin masuk PTN itu. Aku ingin masuk PTN itu. Apapun jurusannya, yang penting PTN itu. Kubuka situsnya. Seandainya tidak lulus SBMPTN, aku akan cari jalur tes lain. Yang penting bisa masuk PTN itu.
Ternyata oh ternyata.. jalur masuknya hanya SNMPTN dan SBMPTN. Aduh! Aku sedikit menyesal mengapa tidak memilih PTN itu di pilihan kedua. Tapi sepertinya cukup mengerikan juga ya kalau pilihan keduanya PTN itu juga. Sudahlah. Semuanya telah terjadi. Mau menangis “gogoakan” pun tidak akan berubah.
Ada sedikit niat untuk mengikuti tes mandiri di PTN-PTN lain supaya ada cadangan. Supaya bisa lebih tenang menunggu pengumuman. Sayangnya, aku ketinggalan info. Sebagian pendaftarannya sudah ditutup sejak dulu. Hanya 1 PTN yang masih buka untuk waktu yang dekat. Tetapi, kalau dipikir-pikir, kan hasilnya keluar setelah hasil SBMPTN. Bagaimana kita bisa tenang? Apalagi, jika aku ikut dan lulus di SBMPTN dan di tes mandiri, aku tidak akan mengambil hasil tes mandiri. Mungkin aku telah mengambil jatah orang yang benar-benar ingin masuk ke sana.
Ya sudah. Bismillah. Aku tawakkal saja. Toh aku pun sudah berusaha. Seandainya aku tidak lulus, masih ada PTN yang rentang waktu pendaftarannya setelah SBMPTN.
8 Juli 2013. Tenyata pengumuman SNMPTN lebih cepat dari yang sudah dijadwalkan. Ayahku menyuruhku untuk segera membuka hasilnya. Rasanya ketegangan sudah memuncak, memenuhi ubun-ubun. Alhamdulillah, rambutku masih setia menempel. Kalau tidak, mungkin aku sudah botak seketika.
Aku berdoa berkali-kali. Meminta diberikan yang terbaik. Aku ingin sekali masuk pilihan pertama. Karena pilihan kedua dan ketigaku bukan PTN itu. Aku meminta agar diberi ketegaran dan keridhoan terhadap segala ketentuan Alloh. Awalnya, aku ingin menulis nasihat untuk diriku sendiri betapa luasnya ilmu Alloh. Alloh Maha Mengetahui sedangkan kita tidak tahu apa-apa. Alloh Mahatahu yang terbaik dan Alloh memberi yang terbaik. Tetapi, adikku mendesak untuk melihat hasilnya segera.
Tanganku bergetar membuka situs pengumuman.SBMPTN.ac.id. Hatiku berdebar tak karuan. Lagi-lagi, saraf simpatikku bekerja, kali ini jauh lebih riang dan semangat daripada saat aku menjalani tes SBMPTN. Jantungku berdetak dengan keras. Sambil menghembuskan nafas, kumasukkan nomor peserta dan tanggal lahir. Hasilnya adalah…
Tebak apa hasilnya.
Aku sedikit malu untuk mengatakannya.
Alhamdulillah, aku masuk pilihan pertama. Jurusan Industri PTN itu. Aku berteriak memanggil ayahku dengan tak percaya. Ayahku melakukan sujud syukur saat itu juga. Adikku senyum-senyum sambil menatap dengan tatapan “minta traktir”. Ku reload website itu berkali-kali. Hasilnya tetap sama. Alhamdulillah. Sungguh ini adalah karunia Alloh. Lulus SBMPTN adalah karunia Alloh. TanpaNya, aku bukanlah apa-apa, bahkan bukan sebutir debu di ujung kaki nyamuk pun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmusholihat.
Ternyata…
Ilmu Alloh itu sangat luas, kawan. Maka tak perlu putus asa saat kau tak mendapat apa yang kau harapkan. Bisa jadi hal yang kau tak sukai itu baik bagimu dan hal yang kau sukai itu buruk bagimu. Aku tak lulus SNMPTN, karena mungkin kalau aku lulus, aku akan terus terbelit dalam jeratan tali kebiasaan buruk.
Ternyata…
SBMPTN bukanlah sekadar tes seleksi yang hanya terjadi 2 hari. SBMPTN adalah salah satu potongan mozaik kehidupan tentang sejauh mana seseorang sanggup memperjuangkan mimpinya, sejauh mana ia meyakini luasnya ilmu Alloh dan sejauh mana ia ridha terhadap ketentuan Alloh.
Ternyata…
Berbagi ilmu itu asyik loh kawan. Bukannya berkurang, ilmu yang kita miliki justru semakin bertambah. Dan yakinlah akan keadilan Alloh. Ia Maha Mengetahui hal sekecil apapun. Dan tidaklah kebaikan dibalas kecuali dengan kebaikan.
Humaira kembali menatap PTN itu sambil tersenyum. Sore kemarin, sore 8 Juli 2014 telah menjadi saksi bahwa bintang cita-cita Humaira itu telah lebih dekat. Siap menyambut tangan pekerja keras Humaira yang sedang berjuang untuk meraihnya.
NB: Cerita ini tidak menafikkan bahwa masuk melalui SNMPTN itu tidak baik. Cerita ini adalah cerita bagaimana penulis mengambil sebuah kesimpulan dari sebuah kejadian yang dianggap buruk dalam kehidupannya. Bahwa jika engkau tidak diterima SNMPTN, mungkin Alloh menginginkanmu berjuang lebih keras. Jadi… tetap semaaaaaaangat kawaaaaaaaaan!!!
1SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah sebuah seleksi masuk PTN tanpa tes, peserta hanya perlu daftar dan menyerahkan data-data yang diminta (nilai raport sekolah, dsb). Pada tahun 2013, SBMPTN dilaksanakan selama dua hari. Untuk IPA (Saintek), pada hari pertama dilakukan tes TPA (Tes Kemampuan Akademik), Matematika dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, sedangkan pada hari kedua dilakukan tes Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi.
2SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) adalah sebuah seleksi masuk PTN melalui tes secara nasional.
3KAP adalah nomor yang digunakan siswa untuk daftar seleksi SNMPTN atau SBMPTN
Penulis Humayra Azzahra
Kisah ini dikirim ke alqoshosh.com oleh Mariah dan dipublikasikan oleh Al Qoshosh Team ( Riksa Ginanjar )
Penulis Humayra Azzahra
Kisah ini dikirim ke alqoshosh.com oleh Mariah dan dipublikasikan oleh Al Qoshosh Team ( Riksa Ginanjar )








0 komentar:
Posting Komentar
Gunakan kata-kata yang baik dan sopan dalam berkomentar... terimakasih