Bismillah..
Siang tadi, ketika ingin jemput anak, saya singgah di tempat Pangkas Rambut. Saya senang di tempat ini, boleh dikata tempat langganan. Yang saya sukai adalah cara pangkasnya yang cepat dan hasilnya lumayan. Disela-sela pemangkasan, tukang cukur bertanya kepada saya:
"Apa bedanya antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafy?"
Dia memang sementara belajar Islam juga. Sehingga wajar kalo tanya-tanya.
Saya mencoba menjelaskan sesederhana mungkin, agar ia mudah memahaminya. Saya katakan mengatakan, bahwa:
"Kalau Ahlus Sunah adalah orang yang mengikuti Sunnah (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu 'anhum).
Kalau salafy adalah orang yang mengikuti orang terdahulu (para shahabat radhiyallahu 'anhum)."
Kesimpulannya, saya katakan sama saja. Kerna salaf nama lain dari Ahlus Sunnah.
Diantara pertanyaan lain adalah masalah qunut. Saya katakan, bahwa masalah ini para ulama berbeda pendapat, yang masih dalam wilayah furu’iyyah. Tapi, saya ingatkan, bahwa:
"Malah yang perlu kita waspadai sekarang ini adalah bahaya #Syiah!"
Lalu, ia bertanya:
”Apakah Syi'ah sudah ada juga di Sulawesi?”
Saya katakan:
”Ya, diantaranya adalah ada di wilayah Makassar dan Pare-pare..”
Di sisi lain, ada hal yang membuat saya tercengang sekaligus salut pada beliau. Ketika sedang duduk di kursi, mata saya tertuju pada tulisan yang ada pada kertas tepat di depan cermin cukur. Karena biasanya hanya dipajang tuliasn tentang ongkos cukur. Tapi kali ini, ada tambahan informasi/pemberithuan kepada pelanggan yaitu:
”MOHON MAAF, TIDAK MENCUKUR JANGGUT!”
Pada saat selesai, saya minta izin untuk mendokumentasikan tulisan tersebut.
Dia bilang: "Untuk apa?"
Saya katakan: ”Ini unik (baru lihat di tempat pangkas rambut).”
Lalu, dia menjelaskan alasan mengapa ia tulis seperti itu. Beliau katakan, bahwa dia pernah dengar siaran Radio Rodja 756 AM, kalau ternyata janggut adalah sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Subhanalah!
Ketika saya hendak bayar, dia katakan: "Gratis untuk Anda, lain kali saja."
Alhamdulillah, semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik.
Sebelum berpisah, saya ingatkan beliau agar hadir ta’lim setiap malam Ahad.
Semoga Allah sentiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada beliau untuk menerima #Manhaj yang #Haq ini…
| Dari Akun FB Achil Abdul Hafid
| Dengan sedikit edit oleh Admin Buletin Al-Minhaj tanpa mengurangi makna
Siang tadi, ketika ingin jemput anak, saya singgah di tempat Pangkas Rambut. Saya senang di tempat ini, boleh dikata tempat langganan. Yang saya sukai adalah cara pangkasnya yang cepat dan hasilnya lumayan. Disela-sela pemangkasan, tukang cukur bertanya kepada saya:
"Apa bedanya antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan Salafy?"
Dia memang sementara belajar Islam juga. Sehingga wajar kalo tanya-tanya.
Saya mencoba menjelaskan sesederhana mungkin, agar ia mudah memahaminya. Saya katakan mengatakan, bahwa:
"Kalau Ahlus Sunah adalah orang yang mengikuti Sunnah (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya radhiyallahu 'anhum).
Kalau salafy adalah orang yang mengikuti orang terdahulu (para shahabat radhiyallahu 'anhum)."
Kesimpulannya, saya katakan sama saja. Kerna salaf nama lain dari Ahlus Sunnah.
Diantara pertanyaan lain adalah masalah qunut. Saya katakan, bahwa masalah ini para ulama berbeda pendapat, yang masih dalam wilayah furu’iyyah. Tapi, saya ingatkan, bahwa:
"Malah yang perlu kita waspadai sekarang ini adalah bahaya #Syiah!"
Lalu, ia bertanya:
”Apakah Syi'ah sudah ada juga di Sulawesi?”
Saya katakan:
”Ya, diantaranya adalah ada di wilayah Makassar dan Pare-pare..”
Di sisi lain, ada hal yang membuat saya tercengang sekaligus salut pada beliau. Ketika sedang duduk di kursi, mata saya tertuju pada tulisan yang ada pada kertas tepat di depan cermin cukur. Karena biasanya hanya dipajang tuliasn tentang ongkos cukur. Tapi kali ini, ada tambahan informasi/pemberithuan kepada pelanggan yaitu:
”MOHON MAAF, TIDAK MENCUKUR JANGGUT!”
Pada saat selesai, saya minta izin untuk mendokumentasikan tulisan tersebut.
Dia bilang: "Untuk apa?"
Saya katakan: ”Ini unik (baru lihat di tempat pangkas rambut).”
Lalu, dia menjelaskan alasan mengapa ia tulis seperti itu. Beliau katakan, bahwa dia pernah dengar siaran Radio Rodja 756 AM, kalau ternyata janggut adalah sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Subhanalah!
Ketika saya hendak bayar, dia katakan: "Gratis untuk Anda, lain kali saja."
Alhamdulillah, semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik.
Sebelum berpisah, saya ingatkan beliau agar hadir ta’lim setiap malam Ahad.
Semoga Allah sentiasa memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada beliau untuk menerima #Manhaj yang #Haq ini…
| Dari Akun FB Achil Abdul Hafid
| Dengan sedikit edit oleh Admin Buletin Al-Minhaj tanpa mengurangi makna








0 komentar:
Posting Komentar
Gunakan kata-kata yang baik dan sopan dalam berkomentar... terimakasih