kitika itu beliau tidak melihatku-: “Kamu hiasi dirimu di hadapan manusia dan berbuat untuk mereka, kau memperbagus diri dan ingin dilihat manusia supaya mereka berkata “Dia itu lelaki yang shalih, lalu mereka berbondong-bondong menghadiri majelismu dan memuliakanmu, alangkah ruginya kamu! Alangkah buruknya keadaanmu, jika memang begitu keadaan dirimu!”
***
Begitulah para ulama kita yang zuhud, mereka mengoreksi dirinya sendiri, mereka menjaga dirinya dari riya', sum'ah, sombong dan ujub. Mereka mengetahui bahwa seorang yang alim, ahli ibadah dan shalih sudah seharusnya tidak memandang pemberian orang, tidak pula terpedaya dengan sanjungan orang di sekitarnya, tidak mencari kehormatan dan kemuliaan di majelis sebab keshalihan dan ketakwaannya, karena seluruhnya itu semata-mata mengharapkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala, tidak mengharapkan imbalan dari manusia dan tidak menjadikan kedok agama sebagai sarana untuk mendapatkan kenikmatan dunia, tidak mengotori hatinya dengan terbuai oleh pujian dan penghormatan dari manusia.
Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah bukanlah termasuk orang yang memiliki sifat sebagaimana beliau peringatkan atas dirinya itu. Beliau bukanlah orang yang suka menghias diri di hadapan manusia dan berlaku sok lembut dalam berbicara dan berperilaku. Bukan pula orang yang suka riya' manakala dia berkata dan berbuat. Akan tetapi beliau senantiasa memperingatkan dirinya sendiri dengan cara tersebut. Beliau menjauhkan diri dari bencana tersebut dengan menggambarkan kondisi manusia di zaman beliau dan setelah zaman beliau yang hanya memetik buah ilmu dan keshalihannya dengan pujian, sanjungan, popularitas, penghormatan, ingin kebutuhannya dicukupi (murid-muridnya) dan agar semakin banyak orang-orang yang duduk di majelis ilmunya.
Akan tetapi para salaf sangat menjauhkan diri dari perbuatan tersebut, bahkan mereka menyembunyikan amal baiknya yang berupa nafilah supaya tidak terdengar oleh yang lain, agar yang tahu hanyala Allah dan diri mereka sendiri. Mereka sangat tawadhu' dan menganggap rendah tingkat amalnya, sekalipun hebat dalam pandangan manusia. Karena mereka takut jika amal-amal mereka menjadi batal lantaran riya', sombong dan ujub.
Fudhail bin iyadh sangat takut dan berhati-hati, khawatir jika dirinya terkena fitnah dan tipu daya. Beliau pernah berkata: “Kerugian mana yang lebih besar dari seseorang yang telah diberi ilmu oleh Allah U namun tidak mengamalkan, lalu dia melihat pada hari kiamat manfaat ilmunya ternyata hanya bagi orang lain!”
Jadi seorang yang berilmu berada dalam bahaya besar manakala tidak mau mengamalkan apa yang diketahui. Lebih berbahaya lagi jika ilmu yang dia miliki hanya dimaksudkan semata-mata untuk mendapatkan kenikmatan duniawi dan dijadikan sebagai sarana untiuk mencari popularitas dan ketenaran.
Fudhail bin 'Iyadh berkata: “Manusia yang paling tahu tentang Allah adalah yang paling takut kepada-Nya dan seseorang memiliki harapan kepada Allah sesuai dengan kadar ilmu yang dimiliki.” Inilah buah dari ilmu sebagaimana yang dipahami oleh Fudhail bin 'Iyadh. Inilah yang dikatakan sebagai ulama yang mementingkan akhirat daripada dunia. Setiap muslim yang telah mengenal sebagian dari diennya dan bagaimana cara beribadah kepada Rabb-nya dan keharusan iltizam terhadap manhaj-Nya, maka dia mendapat tanggung jawab pula atas ilmu yang dimilikinya. Karena ilmu tentang hakikat dien, kepahaman tentang hukum-hukumnya tidaklah terbatas bagi satu orang saja, tidak terbatas pada satu kelompoik saja. Namun bagi setiap muslim hendaknya mau memepaljadi dan memperdalamnya, selalu menempuh jalan yang dapat mengantarkan dirinya kepada ilmu dan mengambil ilmu dari para ulama yang terpercaya dalam dien dan kefaqihannya.
Itulah derajat yang tinggi yang mana Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu sebagaimana firman-Nya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah : 11)
Orang akan terangkat derajatnya dengan syarat mereka mau menghindarkan diri dari apa yang telah diingatkan oleh Fudhail bin 'Iyadh dalam nasihat beliau yang sedang bermuhasabah terhadap dirinya dan beliau jadikan sebagai peringatan pula bagi generasi-generasi setelah beliau.
(dari kitab Haakadza.. Tahaddatsas Salaf)








0 komentar:
Posting Komentar
Gunakan kata-kata yang baik dan sopan dalam berkomentar... terimakasih