Dakwah Ini Untuk Siapa?

Selasa, 11 Februari 2014 0 komentar
Jika kita mengaku berdakwah kepada Allah Ta’ala, cermatilah duhai diri, sudahkah kita memenuhi syarat-syarat dalam sebuah dakwah ilallah, dakwah ilal Islam,....

Sudahkah kita betul-betul ikhlas? Jangan-jangan publisitas, ketenaran, pujian, kursi parlemen, harga diri atau biar dianggap aktivis, dll yang menjadi ghoyah (tujuan) dakwah kita. Perlu curigai diri dan segera bersihkan serta luruskan,….

Ingat : Maa kaana lillahi abqo (Segala yg ikhlas kerana Allah semata pasti kekal)

Kata orang “ Susah bagi politikus untuk ikhlas dalam berdakwah”. Masalah pencitraan (jaim) dihadapan publik adl ushul politikus adapun bagaimana kita dimata Allah adl pertimbangan dai sejati yg mukhlis.

Sudahkah landasan setiap dakwahmu dg dalil dan ilmu yg haq (Al-Qur’an was Sunnah yg Shahih) ?

Sudahkah urusan Tauhid dan Syirik yg utama engkau usung dalam dakwahmu?

Ketahuilah jika suatu gerakan dakwah yg tidak mengutamakan seruan kepada tauhid dan peringatan kepada Syirik sebagai prioritas dalam dakwahnya maka dakwah tersebut telah menyimpang dari manhaj dakwah yang haq, dakwahnya para anbiya wal mursalin. Inilah barometernya utk menilai sebuah dakwah.

Jika anda mendengar klaim sebuah partai, lembaga, yayasan atau organisasi, ataupun pribadi, atau apa sajalah yang mengaku bekerja demi dakwah ilallah, maka cermati apa yg ada pada mereka. Sudahkah mereka menegakkan syarat-syarat dakwah ilallah ataukah hanya sekedar jargon belaka, untuk menutupi “SESUATU” yang sebenar-benarnya mereka cari.

Dan inilah diantara syarat-syarat dakwah ilalloh yang paling penting :

1. Ikhlas semata-mata dalam rangka mencari ridho dan pahala disisi Allah ‘azza wa jalla. Inilah syarat yang pertama dan syarat yang paling berat buat para juru dakwah,…

2. Al-Ilmu, suatu keharusan bagi seorang dai untuk melandasi dakwahnya diatas ilmu dan bashiroh, ar-rifq wal liin. Dakwah bukan dgn landasan akal dan perkataan manusia,..

3. Mengutamakan untuk memerangi kesyirikan kepada Allah Ta’ala dan berwala kepada muwahidin serta mukminin. (Prioritas pertama)
Beramal dengan sesuatu yg ia serukan dalam dirinya, keluarganya, dan orang-orang disekitarnya. Pokoknya “Ibda’ bi nafsik”

4. Sabar, di jalan dakwah harus bersabar terhadap segala gangguan (Masyaqoh) serta paham terhadap problematika dakwah (Masyakil) dan tahan terhadap derita dakwah dan tidak luntur dengan nikmat yg dihadapan mata.

Tak jarang seorang dai begitu istiqomah saat menempa jalan derita NAMUN saat dunia telah di hadapannya justru ia futur, luntur & hancur. Kabur dari gelanggang dakwah yang hakiki.

Semoga bermanfaat. Wallohu a'lamu bis showab

===========================================
Disunting dari Muhadhoroh Tsaniyah wa tsalatsuun, fid dakwati ilallohi, biqolam Fadilatus Syaikh DR. Sholih Bin Fauzan bin Abdulloh Al-Fauzan.
Riyadh 1424 H oleh Amy Hanif

[AF]

0 komentar:

Posting Komentar

Gunakan kata-kata yang baik dan sopan dalam berkomentar... terimakasih

 

©Copyright 2013 Al Qoshosh | Designed by Amzan